content top

Tujuan Hidup Kita ialah Hidup Kekal

Tujuan hidup kita ialah hidup kekal, yang hanya dapat kita capai dengan kekuatan ilahi.

Minggu Biasa Ke VI
Oleh Rm St. Sutopanitro. Pr
Sumber Berita Minggu Gereja Katolik Santo Yakobus
Tahun XXIII Nomor 264/1219

Orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan kekayaan duniawi itu seperti orang yang terkutuk, meskipun kaya raya dan hidupnya tampak berhasil; sebaliknya orang yang mengandalkan Tuhan itu seperti orang yang terberkati, meskipun tampaknya hidupnya tidak berhasil (Bacaan pertama, Yer.17:5-8). Sebab kita mengimani Kristus, yang sekalipun dibunuh, tetapi telah dibangkitkan sebagai Manusia sulung, karena kita pun mengharapkan kebangkitan yang sama dalam Dia (Bacaan kedua, 1Kor.15:12; 16:20). Tujuan hidup kita bukan hidup di dunia ini, melainkan hidup abadi yang tidak ditentukan sama sekali oleh keberhasilan ataupun kekayaan duniawi (Bacaan Injil, Luk.17:20-26).

Manusia diciptakan di dunia ini, dan bahkan sebagai bagian dari dunia ini. Tetapi dari sisi lain manusia diciptakan sebagai ‘pribadi gambar Pribadi Allah’. Selama manusia dengan kebebasannya mewujudkan diri sebagai ‘pribadi gambar Pribadi Allah’, hidup manusia dalam proses menuju hidup abadi. Sebab disitu manusia disucikan dan dalam proses disatukan dengan yang Ilahi, dalam proses menjadi anak Allah.

Pesan yang mau disampaikan oleh perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-6 ini mau mengingatkan kita bahwa meskipun kita ini hidup di dunia ini tetapi kita bukanlah dari dunia ini (bdk. Yoh.17:14). Karena tujuan hidup kita bukan di dunia ini, yang nisbi dan akan musnah. Tujuan hidup kita ialah hidup abadi dalam hadirat Allah. “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya kerajaan Allah…….. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat…….. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu…… Celakalah kamu jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu”.

Kekayaan dan popularitas duniawi dapat membelenggu manusia, sehingga manusia menjadi buta akan tujuan hidupnya yang sejati. Tidak sedikit orang yang kaya raya mengandalkan kekayaannya, tetapi terlepas dari Tuhan, karena pada kenyataannya orang mendewakan kekayaannya dan mau mempertahankannya, dan itu berarti memilih jalan kegelapan. Tidak sedikit orang mengandalkan dukungan orang lain karena ia merasa sebagai orang yang populer, tetapi itu berarti ia mengingkari rahmat Tuhan. “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan!”.

Memang kita manusia ini terdiri pula dari badan yang jasmani, tetapi sebagai pribadi manusia adalah rohani. Agar kita dapat mewujudkan diri sebagai ‘gambar Pribadi Allah’, badan kita yang jasmani itu harus kita rohanikan, kita beri nilai rohani, bahkan nilai ilahi. Disitulah sebagai pribadi kita harus berjuang mengalahkan dorongan jasmani kita, yang karena dosa menguasai kita. Itulah sebabnya Kristus mengatakan, bahwa orang yang miskin, orang yang tidak populer, yang menderita di dunia ini sebenarnya kalau toh terikat, tidak seerat belenggu kekayaan bagi orang kaya, sehingga dapat dikatakan lebih mudah melepaskannya (bdk. Mt.19:23). Maka orang boleh saja kaya, tetapi jangan terbelenggu pada kekayaannya. Ingat : tujuan kita bukan di dunia ini.

Bahwa tujuan kita itu hidup abadi, sehingga kita membutuhkan pertolongan Tuhan untuk mampu mencapainya, rasul Paulus menunjuk kepada iman kita akan Kristus yang bangkit. Kristus memang menderita dan dibunuh, tetapi Ia sungguh telah bangkit, untuk menunjukkan bahwa dengan kebangkitan-Nya Kristus merohanikan, bahkan mengilahikan kejasmanian-Nya. “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu…… Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”.

Sadarkah kita bahwa mewujudkan diri sebagai ‘pribadi gambar Pribadi Allah’ adalah sama dengan menjadikan diri sebagai manusia yang tidak terbelenggu keduniawian?

Popularity: 13% [?]

468 ad


Leave a Reply